Soe Hok Gie dan Patriotisme
Ditulis pada Dec 17, 2009 // Artikel.
16 Desember 1969, sosok itu meregang nyawa. Gas beracun dari puncak gunung tertinggi di pulau Jawa mengakhiri hidupnya, sekaligus mengabulkan kebahagiannya untuk mati muda.
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda,” itulah kata-kata yang ditulis pemuda itu di buku hariannya.
Pemuda itu, Soe Hok Gie, aktivis angkatan 66, salah satu tokoh pergerakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Lewat aksi-aksinya, Gie ikut berperan menumbangkan Orde Lama, namun Gie tidak lantas mau mendukung pemerintahan Orde Baru.
Tulisan-tulisan Gie kritis menentang kebijakan Orde Baru. Gie bahkan sempat menyindir teman-temannya, sesama angkatan 66 yang duduk di DPR GR. Dia menghadiahi bedak dan pupur agar para aktivis itu bisa berdandan sehingga kelihatan lebih ‘cantik’ di depan penguasa.
Gie lebih betah menulis daripada duduk manis sebagai anggota dewan. Idealismenya memang sulit dikalahkan. Penyuka lagu Donna Donna ini lebih memilih naik gunung daripada berpolitik praktis.
Gie mencintai gunung dan alam bebas. Puisi-puisinya banyak berkisah tentang kecintaannya terhadap pendakian gunung. Di puncak gunung juga akhirnya salah satu pendiri Mapala UI ini menghadap penciptanya. Di tengah kabut tebal puncak Gunung Semeru, Gie tewas tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-27.
Kisah hidup Soe Hok Gie diangkat ke layar lebar oleh sutradara Riri Riza. Aktor Nicholas Saputra menjadi pemeran Gie. Film ini mendapat Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2005.
Buku ‘Catatan Seorang Demonstran’ yang diangkat dari buku harian Gie, masih mengilhami para mahasiswa dan aktivis untuk memperjuangkan cita-cita mereka. Para pendaki gunung juga masih mengingat pandangan Gie soal nasionalisme.
“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung,” ujar Gie kala itu.
Hingga hari ini, kata-kata itu masih tetap diingat. Hari ini, tepat 40 tahun lalu Soe Hok Gie meninggal. (id.news.yahoo.com)
ngatijo
Wednesday, 06 January 2009, 10:38 amsalam sukses mas budi kurniawan
mas budi,salam kenal ya. mas saya mau minta tlg….saya mau coba bisnis di internet (agen buku), rencana saya mau bikin web/blog…kemarin udah coba buat ama temen, tp belum bisa utak atiknya.maklum termasuk gaptek.hehe.coba mungkin mas budi bisa bantu…kemarin saya beli buku njenengan ” cari duit modal dengkul cara Blogger”ya tapi gak maksimal je.atau saya bisa minta nomer telp njenengan (hp/flexy). nmr saya (0274)3055405 hp 081904163767 dengan ngatijo.
terimakasih sebelumnya.
hormat saya
ngatijo-Yogyakarta
admin
Thursday, 07 January 2009, 12:56 amsilahkan hubungi via email : budi_k@akmi-baturaja.ac.id. Insya Allah sgala pertanyaan saudara akan kami jawab. Terima kasih
Pingback/Trackback
Komentari
Posting tweet...
Kalo pengen tag-nya muter-muter ga keruan, donlot doeloe Flash Player 9 bos...
Categories
Blog Stat
5 Users Online
Photo Album
Shoutbox
Blogroll
Link
Community
Sponsor
Klik Daftar untuk penghasilan tambahan dari blogger.com